Pages

Monday, January 28, 2013

Contoh Proposal Skripsi "Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas XI Pada Konsep Fluida Statis"



A.   Judul
Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas XI Pada Konsep Fluida Statis.

B.  Masalah Penelitian
1.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu bentuk upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan, dalam arti usaha sadar dan terencana mewujudkan proses belajar sepanjang hayat, menyentuh semau sendi kehidupan, semua lapisan masyarakat, dan segala usia.[1] Kesadaran tentang pentingnya pendidikan telah mendorong berbagai upaya dan perhatian seluruh lapisan masyarakat terhadap setiap perkembangan dunia pendidikan, terutama perkembangan dalam bidang teknologi dan informasi, dimana pengetahuan tentang ilmu fisika yang sangat erat kaitannya dengan IPTEK sangat perlu untuk dikembangkan mulai dari tingkat dasar untuk dapat bersaing dan dapat bertahan dengan kondisi jaman yang selalu berkembang seiring berjalannya waktu, maka dalam proses pembelajaran harus dapat mengembangkan kemampuan siswa seutuhnya agar memiliki kualitas sumber daya manusia yang baik untuk menjawab tantangan-tantangan yang ada.
Dalam proses pembelajaran guru dituntut untuk bisa memilih model pembelajaran yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi siswa agar mencapai keberhasilan dalam belajar. Keberhasilan yang dimaksud adalah siswa dapat membangun konsep-konsep fisika dengan bahasanya sendiri, mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu menyelesaikan masalah-masalah fisika yang ia temukan.
Pelajaran fisika adalah pelajaran yang mengajarkan berbagai pengetahuan yang dapat mengembangkan daya nalar, analisa, sehingga hampir semua persoalan yang berkaitan dengan alam dapat dimengerti. Untuk dapat mengerti fisika secara luas, maka harus dimulai dengan kemampuan pemahaman konsep dasar yang ada pada pelajaran fisika. Berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam memahami tentang pelajaran fisika sangat ditentukan oleh pemahaman konsep.
Dalam belajar fisika hendaknya fakta konsep dan prinsip-prinsip fakta tidak diterima secara prosedural tanpa pemahaman dan penalaran. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang (guru) ke kepala orang lain (siswa). Siswa sendirilah yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalaman-pengalaman mereka. Pengetahuan atau pengertian dibentuk oleh siswa secara aktif, bukan hanya diterima secara pasif dari guru mereka.
Konsep fluida statis merupakan konsep yang cukup penting dalam kurikulum pembelajaran fisika. Konsep ini diperkenalkan sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan merupakan konsep yang sangat dekat dengan fenomena yang sering ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, pada kenyataannya tidak sedikit siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai konsep-konsep fluida ststis dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang siswa dalam belajar fisika dikatakan kurang berhasil apabila perubahan tingkah laku yang terjadi belum mampu menentukan kebijaksanaannya untuk mencapai suatu hasil yang telah ditetapkan secara tepat dalam waktu yang telah ditentukan. Untuk mencapai suatu  hasil belajar yang maksimal, banyak aspek yang mempengaruhinya, di antaranya aspek guru, siswa, metode pembelajaran dan lain-lain.
Menurut Gage (1984), belajar dapat di definisikan sebagai suatu proses dimana satu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.[2]
Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Tingkat keberhasilan pendidikan tidak terlepas dari proses belajar dan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa.
Masalah yang di hadapi oleh siswa dalam proses belajar mengajar yaitu kesulitan siswa dalam memahami materi yang di ajarkan guru dengan menggunakan model pembelajaran yang belum mengaktifkan seluruh siswa. Selama ini guru masih menggunakan model pembelajaran kelompok yang konvensional. Model pembelajaran seperti ini menyebabkan keterlibatan seluruh siswa dalam aktivitas pembelajaran yang sangat kecil, karena kegiatan pembelajaran di dominasi oleh siswa yang memiliki kemampuan tinggi sementara yang memiliki kemampuan rendah hanya menonton saja (pasif). Hal ini  berarti dalam suatu kelompok belajar masih banyak siswa yang belum melakukan keterampilan kooperatif. Hal ini menyebabkan sebagian besar siswa terutama yang memiliki kemampuan rendah enggan berpikir, sehingga timbul perasaan jenuh dan bosan dalam mengikuti pelajaran fisika.akibat dari sikap siswa tersebut, maka hasil belajarpun kurang memuaskan, dalam arti tidak memenuhi batas tuntas yang di tetapkan sekolah.
Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa sehingga siswa mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain. Dalam interaksi ini, siswa akan membentuk komunitas yang memungkinkan mereka mencintai proses belajar dan mencintai satu sama lain.
Dalam proses belajar mengajar melibatkan berbagai macam aktivitas yang harus dilakukan, terutama jika menginginkan hasil yang optimal. Salah satu cara yang dapat dipakai agar mendapatkan hasil yang optimal seperti yang diinginkan adalah memberi tekanan dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilaksanakan dengan memilih salah satu model pembelajaran yang tepat karena pemilihan model pembelajaran yang tepat pada hakikatnya merupakan salah satu upaya dalam mengoptimalkan hasil belajar siswa.
Salah satu model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk berinteraksi satu sama lain adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif dapat memotivasi siswa, memanfaatkan seluruh energi sosial siswa, saling mengambil tanggung jawab. Model pembelajaran kooperatif membantu siswa belajar mulai dari keterampilan dasar sampai pemecahan masalah yang kompleks. Ironisnya, model pembelajaran kooperatif belum banyak diterapkan dalam pendidikan walaupun orang indonesia sangat membanggakan sifat gotong-royong dalam kehidupan bermasyarakat.
Model Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe. Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang dapat membangun kepercayaan diri siswa dan mendorong partisipasi mereka dalam kelas adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. Model Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share membantu siswa mengintepretasikan ide mereka bersama dan memperbaiki pemahaman.[3] Dalam hal ini, guru sangat berperan penting untuk membimbing siswa melakukan diskusi, sehingga terciptanya suasana belajar yang lebih hidup, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Dengan demikian jelas bahwa melalui model pembelajaran Think-Pair-Share, siswa secara langsung dapat memecahkan masalah, memahami suatu materi secara berkelompok dan saling membantu antara satu dengan yang lainnya, membuat kesimpulan (diskusi) serta mempresentasikan di depan kelas sebagai salah satu langkah evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran Think-Pair-Share sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share cocok digunakan di SMA karena kondisi siswa SMA yang masih dalam masa remaja membuat mereka menyukai hal baru dan lebih terbuka dengan teman sebaya dalam memecahkan permasalahan yang mereka hadapi.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya dan sebagai salah satu alternatif pembelajaran inovatif yang dapat mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan proses interaksi di antara individu yang dapat digunakan sebagai sarana interaksi sosial di antara siswa dan sekaligus menjawab masalah yang ada di sekolah, penulis bermaksud mengadakan penelitian dengan judul Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Teradap Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas XI Pada Konsep Fluida Statis.
2.    Identitas Masalah
Berdasarkan latar belakang terjadinya masalah yang telah dipaparkan, penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
a)    Siswa masih menganggap fisika sebagai mata pelajaran yang sulit.
b)   Kemampuan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep fisika yang masih kurang.
c)    Proses pembelajaran fisika lebih menekankan pada pencapaian tuntutan kurikulum dan penyampaian materi semata, sehingga menyebabkan rendahnya hasil belajar fisika siswa.
d)   Guru belum menerapkan model pembelajaran yang mampu menciptakan suasana pembelajaranan yang menarik dan menyenangkan.

3.    Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan, terdapat berbagai masalah yang harus dihadapi. Sehingga pembatasan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
a.    Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) terhadap hasil belajar fisika siswa kelas  XI pada konsep fluida statis.
b.    Hasil belajar fisika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil tes kognitif saja. Adapun ranah kognitif  yang dinilai adalah berdasarkan taksonomi bloom yg sudah direvisi oleh Madaus, dkk yaitu mengingat (C1), memahami (C2), menerapkan (C3), dan evaluasi (C4).[4]
c.    Peneliti akan memfokuskan pada penggunaan  model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS).

4.    Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah yang telah diuraikan, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian sebagai berikut: “Apakah Terdapat Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas XI Pada Konsep Fluida Statis ?”
C.  Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
a.    Untuk mengetahui prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share.
b.    Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mencapai indikator setelah mengikuti kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-share pada pokok bahasan fluida statis.
c.    Untuk mengetahui respon siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Think - Pair – Share pada pokok bahasan fluida statis.

2.    Kegunaan penelitian
Adapun kegunaan  penelitian ini sebagai berikut:
a.    Merupakan sumbangan yang berharga bagi lembaga pendidikan SMA 12 Tangsel dalam rangka memperbaiki dan mengembangkan proses belajar mengajar terutama untuk meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran fisika.
b.    Dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share siswa akan terbiasa untuk belajar mandiri dan berdiskusi tanpa harus di dekte oleh guru.
c.    Mendorong guru untuk pro-aktif dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dan memotivasi siswa dalam meningkatkan prestasi belajar.
d.   Menambah pengalaman dan wawasan berpikir bagi penulis terutama tentang penelitian ilmiah.

D.  Kajian teoritis dan Kerangka teoritis
1.    Kajian teoritis
a.    Model Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologis pendidikan dan teori belajar yang di rancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas. Seiring dengan berkembangnya zaman dan kurikulum yang terus mengalami perubahan.  Adapun berikut ini adalah pengertian model pembelajaran menurut pendapat para tokoh pendidikan antara lain:  
Menurut Agus Suprijono model pembelajaran adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial.
Menurut Mills  model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses actual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu.
Menurut Richard I Arends  model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap kegiatan di dalam pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas.  
Dari beberapa definisi para ahli di atas dapat di simpulkan bahwa model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar bagi para siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
Secara harfiah model pembelajaran merupakan strategi yang di gunakan untuk meningkatkan motivasi belajar, sikap belajar di kalangan siswa, mampu berpikir kritis, memiliki keterampilan sosial, dan pencapaian hasil pembelajaran yang optimal. Model pembelajaran adalah betuk penjabaran yang tergambar dari awal sampe akhir yang disajikan secara khas oleh guru kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan, metode dan teknik pembelajaran.




b.   Jenis- jenis model pembelajaran
Sugiyanto (2008) mengemukakan bahwa ada banyak model pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli dalam usaha mengoptimalkan hasil belajar siswa. Model pembelajaran tersebut antara lain terdiri dari:
1.    Model Pembelajaran Kontekstual
Model pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Pembelajaran ini juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika siswa belajar.
2.    Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
3.    Model Pembelajaran Kuantum
Model pembelajaran kuantum merupakan  rakitan dari berbagai teori atau pandangan psikologi kognitif dan pemrograman neurologi yang jauh sebelumnya sudah ada.
4.    Model Pembelajaran Terpadu
Model pembelajaran terpadu merupakan pembelajaran yang memungkinkan siswa baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik. Pembelajaran ini merupakan model yang mencoba memadukan beberapa pokok bahasan.
5.    Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning – PBL)
Model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning – PBL) merupakan pembelajaran yang mengambil psikologi kognitif sebagai dukungan teoritisnya. Fokusnya tidak banyak pada apa yang sedang dikerjakan siswa tetapi pada apa yang siswa pikirkan selama mereka mengerjakannya. Guru memfungsikan diri sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa dapat belajar untuk berfikir dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

c.    Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang saling asuh antar siswa untuk menghindari ketersinggungan dan kesalah pahaman yang dapat menimbulkan permusuhan[5].
Secara sederhana, kata kooperatif berarti mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu tim. Jadi, pembelajaran kooperatif dapat diartikan belajar bersama, saling membantu satu sama lain dalam belajar dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok mencapai tujuan atau tugas yang telah di tentukan sebelumnya.
Lie menyebut pembelajaran kooperatif dengan istilah pembelajaran gotong royong, yaitu sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan teman-teman yang lainnya dalam tugas yang terstruktur. Sedangkan pendapat jahiri menyebutkan bahwa pembelajaran kooperatif sebagai pembelajaran kooperatif yang menuntut di terapkannya pendekatan belajar siswa yang sentris, humanistik dan demokratis serta disesuaikan pada kemampuan siswa dan lingkungan belajarnya. Dengan demikian, pembelajaran kooperatif mampu membelajarkan diri dan kehidupan siswa baik di kelasatau di sekolah.
Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam memepelajari materi pelajaran[6]bit. Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi, untuk masalah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing. Pembelajaran koopertif bukanlah gagasan baru dalam dunia pendidikan, tetapi sebelum msa belakangan ini metode ini hanya digunakan oleh beberapa guru untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti tugas-tugas atau laporan kelompok tertentu.[7]
Ada banyak alasan yang membuat pembelajaran kooperatif memasuki jalur utama praktik pendidikann kooperat. Salah satunya adalah berdasarkan penelitian dasar yang mendukung penggunaan pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan pencapaian prestasi para siswa, dan juga akibat-akibat positif lainnya yang dapat mengembangkan hubungan antar kelompok, penerimaan terhadap teman sekelas yang lemah dalam bidang akademik, dan meningkatkan rasa harga diri.
Inilah inti dari pembelajaran kooperatif (Slavin, 1928a,b)[8]. Dalam metode pembelajaran kooperatif, para siswa akan duduk bersama dalam kelompok yang beranggotakan empat orang untuk menguasai materi yang disampaikan oleh guru. Anggota timnya heterogen yang terdiri dari siswa yang berprestasi tinggi, sedang, dan rendah, laki-laki dan perempuan, dan berasal dari latar belakang etnik yang berbeda.
Metode pembelajaran kooperatif tentu saja bukan hal baru. Para guru sudah menggunakannya selama bertahun-tahun dalam bentuk laboratorium, kelompok tugas, kelompok diskusi, dan sebagainya. Namun penelitian terakhir di Amerika dan beberapa negara lain telah menciptakan metode-metode pembelajaran kooperatif yang sistematik dan praktis yang ditujukan untuk digunakan sebagai elemen utama dalam pola pengaturan di kelas, pengruh penerapan metode-metode ini juga telah di dokumentasikan, dan telah di aplikasikan ada kurikulum pengajaran yang lebih luas. Metode-metode ini sekarang telah digunakan secara ekstensif dalam setiap subjek yang dapat dikonsepkan, pada tingkat kelas mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, dan pada berbagai macam sekolah di seluruh dunia[9].



d.   Metode Think Pair Share (TPS)
Tipe ini di kembangkan oleh Frank Lyman, dkk. Dari universitas Maryland 1981 yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam seting kelompok kelas secara keseluruhan. Tipe ini memberikan kepada para siswa waktu untuk berpikir dan merespon serta salaing bantu satu sama lain.[10]
Dikemukakan oleh Lie bahwa, “Think Pair Share adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain”.
Sedangkan menurut gunter Think-Pair-Share adalah pembelajaran dengan cara siswa saling belajar satu sama lain dan mendapatkan jalan keluar dari ide mereka setelah berdiskusi dan membuat ide mereka untuk didiskusikan dalam seluruh kelas.
Hal senada juga disampaikan oleh Ibrahim, dkk, mereka menyatakan bahwa TPS (Think Pair Share) atau (Berfikir Berpasangan Berbagi) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Think-Pair-Share menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota) dan lebih dirincikan oleh penghargaan kooperatif, dari pada penghargaan individual.
Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran koopratif learning tipe Think Pair Share (TPS) adalah Model Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi berpasangan yang dilanjutkan dengan diskusi pleno. Dengan model pembelajaran ini siswa dilatih bagaimana mengutarakan pendapat dan siswa juga belajar menghargai pendapat orang lain dengan tetap mengacu pada materi atau tujuan pembelajaran.[11]
Think-Pair-Share merupakan model pembelajaran yang menggunakan teknik sederhana namun menghasilkan keuntungan yang besar. Think-Pair-Share dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, Think-Pair-Share juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan berpartisipasi dalam kelas.
Think-Pair-Share digunakan untuk mengajarkan isi akademik atau untuk mengecek pemahaman siswa terhadap isi tertentu. Guru menciptakan interaksi yang dapat mendorong rasa ingin tahu, ingin mencoba, bersikap mandiri, dan ingin maju. Guru memberi informasi, hanya informasi yang mendasar saja, sebagai dasar pijakan bagi anak didik dalam mencari dan menemukan sendiri informasi lainnya. Atau guru menjelaskan materi dengan mengaitkannya dengan pengalaman dan pengetahuan anak sehingga memudahkan mereka menanggapi dan memahami pengalaman yang baru bahkan membuat anak didik mudah memusatkan perhatian. Karenanya guru sangat perlu memperhatikan pengalaman dan pengetahuan anak didik yang didapatinya dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil dari Think-Pair-Share adalah untuk mengembangkan partisipasi siswa dalam kelas dengan berdiskusi dan meningkatkan pemahaman konsep. Dengan cara siswa saling belajar satu sama lain dan mendapatkan jalan keluar dari ide mereka setelah berdiskusi dan membuat ide mereka untuk didiskusikan dalam kelas (Gunter, 1999).
Langkah-langkah (syntaks) model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share terdiri dari lima langkah, dengan tiga langkah utama sebagai ciri khas yaitu think, pair, dan share. Kelima tahapan pembelajaran dalam model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dapat dilihat pada tabel berikut :
Fase Atau Tahapan
Perilaku Guru
Fase 1: Memberikan orientasi kepada peserta didik
Ø Guru menjelaskan aturan main dan batasan waktu untuk tiap
Ø kegiatan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah
Ø Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa
Fase 2:
Think (berfikir secara individu)

Ø Guru menggali pengetahuan awal siswa melalui kegiatan demonstrasi
Ø Guru memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada seluruh siswa
Ø Siswa mengerjakan LKS tersebut secara individu

Fase 3:
Pair (berpasangan dengan teman  sebangku)

Ø Siswa dikelompokkan dengan teman sebangkunya
Ø Siswa berdiskusi dengan pasangannya mengenai jawaban tugas yang  telah dikerjakan
Fase 4:
Share (berbagi jawaban dengan pasangan lain)

Ø Satu pasang siswa dipanggil secara acak untuk berbagi pendapat kepada seluruh siswa di kelas dengan dipandu oleh guru.
Fase 5:
Penghargaan

Ø Siswa dinilai secara individu dan kelompok

e.    Pengertian Belajar
Balajar adalah kegiatan yang berproses dan  merupakan unsur yang sangant fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika  ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Oleh karenanya, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk, dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik khususnya para guru. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik.
Menurut Gage (1984) belajar dapat di definisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akiba pengalaman[12].
Menurut W.S. Winkel, belajar merupakan kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar. Apa yang terjadi dalam diri seseorang yang sedang belajar, tidak dapat diketahui secara langsung hanya dengan mengamati orang tersebut[13].
Menurut Arief S. Sadiman, dkk. belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya prubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).[14]
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah lakusebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkahlaku[15].
Dari beberapa pengertian belajar diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Belajar adalah  kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan, misalnya psikologi pendidikan. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Karena kemampuan berubahlah, manusia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah dibumi. Selain itu, dengan kemampuan berubah melalui belajar itu, manusia secara bebas dapat mengeksplorasi, memilih, dan menetapkan keputusan penting untuk kehidupannya. E.L. Thorndike meramalkan, jika kemampuan belajar umat manusia dikurangi setengahnya saja maka peradaban yang ada sekarang tak akan berguna bagi generasi mendatang. Bahkan, mungkin peradaban itu sendiri akan lenyap ditelan zaman[16].

f.     Hasil Belajar
Belajar dan mengajar merupakan konsep yang tidak bisa dipisahkan. Belajar merujuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subyek dalam belajar. Sedangkan mengajar merujuk pada apa yang seharusnya dilakukan seseorang guru sebagai pengajar. Dua konsep belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru terpadu dalam satu kegiatan. Diantara keduannya itu terjadi interaksi dengan guru. Kemampuan yang dimiliki siswa dari proses belajar mengajar saja harus bisa mendapatkan hasil bisa juga melalui kreatifitas seseorang itu tanpa adanya intervensi orang lain sebagai pengajar. Oleh karena itu hasil belajar yang dimaksud disini adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki seorang siswa setelah ia menerima perlakukan dari pengajar (guru).
Jadi hasil belajar adalah kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Nana Sudjana mengemukakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia memperoleh pengalaman belajarnya. Dalam belajar terjadi proses berpikir dan terjadi kegiatan mental, dan dalam kegiatan menyusun hubungan-hubungan antara bagian-bagian informasi yang diperoleh sebagai pengertian. Karena itu orang menjadi memahami dan menguasai hubungan-hubungan tersebut. Dengan demikian dapat menampilkan pemahaman dan penguasaan bahan yang dipelajari tersebut, inilah yang disebut hasil belajar.
Gagne mengelompokan hasil belajar menjadi lima bagian dalam bentuk kapabilitas. Gagne dan Briggs (1978 : 49-55) menerangkan bahwa hasil belajar yang berkaitan dengan lima kategori tersebut adalah [17]:
a)    Keterampilan Intelektual adalah kecakapan yang berkenaan dengan pengetahuan prosedural yang terdiri atas deskriminasi jamak, konsep konkret dan terdefinisi, kaidahserta konsep.
b)   Strategi Kognitif adalah kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah baru dengan jalan mengatur proses internal masing-masing individu dalam memperhatikan, mengingat dan berpikir.
c)    Informsi Verbal adalah kemampuan untuk mendeskripsikan sesuatu dengan kata-kata dengan jalan mengatur informasi-informasi yang relevan.
d)   Keterampilan motorik adalah kemampuan untuk melaksanakan dan mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang berhubungan dengan otot.
e)    Sikap merupakan kemampuan internal yang berperan dalam mengambil tindakan untuk menerima atau menolak berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.
Bloom membagi hasil belajar menjadi tiga kawasan yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kawasan kognitif berkenaan dengan ingatan atau pengetahuan dan kemampuan intelektual serta keterampilan-keterampilan. Kawasan psikomotorik adalah kemampuan-kemampuan menggiatkan dan mengkoordinasikan gerak. Kawasan kognitif dibagi atas enam macam kemampuan intelektual mengenai lingkungan yang disusun secara hierarkis dari yang paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks, yaitu 1) pengetahuan adalah kemampuan mengingat kembali hal-hal yang telah dipelajari, 2) pemahaman adalah kemampuan menangkap makna atau arti suatu hal, 3) penerapan adalah kemampuan mempergunakan hal-hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi-situasi baru dan nyata, 4) analisis adalah kemampuan menjabarkan sesuatu menjadi bagian-bagian sehingga struktur organisasinya dapat dipahami, 5) sintesis adalah kemampuan untuk memadukan bagian-bagian menjadi satu keseluruhan yang berarti, 6) penelitian adalah kemampuan memberi harga sesuatu hal berdasarkan kriteria intern atau kelompok atau ekstern maupun yang yang ditetapkan terlebih dahulu.

G. Hakikat hasil belajar
Menurut Gagne, hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan berupa penampilan yang dapat diamati, kemampuan-kemampuan itu dapat bersifat kognitif, afektif dan psikomotorik[18]. Hakikat hasil belajar fisika adalah untuk mengantarkan siswa mengausai konsep-konsep, teori-teori,dan hukum-hukum fisika serta keterkaitannya agar agar dapat memecahkan masalah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, kata menguasai mengisyaratkan bahwa peserta didik tidak hanya sekedar tahu dan hafal tentang konsep-konsep, teori-teori, dan hukum-hukum fisika, melainkan peserta didik harus bisa memahami dan mengerti konsep-konsep, teori-teori, dan hukum-hukum fisika dan menghubungkan keterkaitan satu konsep dengan konsep yang lainya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hasil belajar menumbuhkan pengetahuan dan pengertian dalam diri seseorang sehingga ia dapat mempunyai kemampuan berupa keterampilan dalam bentuk kebiasaan, sikap dan cita-cita hidupnya. Dengan menilai hasil belajar peserta didiknya, sebenarnya guru tidak hanya menilai hasil usaha peserta didiknya saja tetapi sekaligus juga menilai hasil usahanya sendiri.
Hasil belajar menempatkan seseorang dari tingkat abilitas yang satu ke tingkat abilitas yang lain. Mengenai perubahan tingkat abilitas menurut Bloom meliputi tiga ranah, yaitu[19]:
1.        Kognitif, meliputi: pengetahuan, pemahaman, analisis, sintesis, menilai, dan menerapkan.
2.        Afektif, meliputi : sikap menerima, respon, menilai, organisasi, dan karakterisasi.
3.        Psikomotorik, meliputi : persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, gerakan pola penyesuaian, dan kreativitas.
Sebenarnya hasil belajar merupakan realisasi pemekaran dari kecakapan atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar dari seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan, maupun yang menyangkut  nilai dalam sikap[20]. Hasil belajar diakibatkan oleh adanya kegiatan evaluasi belajar, dan evaluasi tersebut dilakukan karena adanya kegiatan balajar. Jadi, hasil belajar fisika siswa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengetahuan yang dicapai siswa pada mata pelajaran fisika setelah mengalami proses pembelajaran di sekolah dan dari hasil evaluasi (tes) atau ujian yang diberika setelah melewati proses belajar pada akhir rumusan tertentu.

2.    Kerangka teoritis
Think-Pair-Share merupakan model pembelajaran yang menggunakan teknik sederhana namun menghasilkan keuntungan yang besar. Think-Pair-Share dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, Think-Pair-Share juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan berpartisipasi dalam kelas. Think-Pair-Share sebagai salah satu metode pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thingking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student oriented).
Think-Pair-Share digunakan untuk mengajarkan isi akademik atau untuk mengecek pemahaman siswa terhadap isi tertentu. Guru menciptakan interaksi yang dapat mendorong rasa ingin tahu, ingin mencoba, bersikap mandiri, dan ingin maju. Guru memberi informasi, hanya informasi yang mendasar saja, sebagai dasar pijakan bagi anak didik dalam mencari dan menemukan sendiri informasi lainnya. Atau guru menjelaskan materi dengan mengaitkannya dengan pengalaman dan pengetahuan anak sehingga memudahkan mereka menanggapi dan memahami pengalaman yang baru bahkan membuat anak didik mudah memusatkan perhatian. Karenanya guru sangat perlu memperhatikan pengalaman dan pengetahuan anak didik yang didapatinya dalam kehidupan sehari-hari.
Penerapan suatu strategi, model dalam pembelajaran fisika merupakan hal yang sangat penting dalam meningkatkan kemampuan siswa secara konstruktif dan mengarah kepada penguasaan materi, kareena itu dalam proses belajar mengajar guru harus memiliki strategi dan model pembelajaran yang tepat, efisisen, efektif dan mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satunya dapat melibatkan siswa mengembangakan motifasi siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi siswa. Salah satunya adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan krangka pikir di bawah ini:




































Kualitas proses pembelajaran
 






Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share
 
 
















Bagan 2.1
Kerangka Berpikir

E.  Rumusan Hipotesis
Hipotesis merupakan dugaan sementara terhadap permasalahan yang penulis angkat dalam penelitian ini sampai terbukti kebenarannya melalui data yang telah terkumpul dan telah diuji.
Ho : tidak terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) terhadap hasil belajar fisika siswa kelas xi pada konsep fluida statis.
 Ha : terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) terhadap hasil belajar fisika siswa kelas xi pada konsep fluida statis.


F.   Hasil kajian pustaka yang relevan
Hasil-hasil penelitian yang menjadi dasar peneliti melakukan penelitian tentang model pembelajaran kooperatif tipe think pair share, antara lain sebagai berikut :
1.    PENGARUH PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA SMA NEGERI 8 SURAKARTA  (oleh Peni Arianti)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif tipe  Think Pair Share    terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 8 Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (Quasi experiment) menggunakan  Posstest Only Control Group  Design.Variabel bebas berupa  model pembelajaran kooperatif tipe  Think Pair Share  dan variabel terikat adalah  hasil belajar biologi siswa.
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan  bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe  Think Pair Share (TPS)  memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar ranah afektif dan ranah psikomotor tetapi tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar ranah kognitif siswa kelas X SMA Negeri 8 Surakarta.
2.    MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE UNTUK AKTIVITAS SISWA DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA ANAK TUNARUNGU (oleh Nur Azizah)
Hasil tes matematika seluruh siswa kelas IV sebelum dilakukan intervensi melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share, menunjukkan tingkat hasil belajar dengan rata - rata 41,28 dan setelah dilakukan intervensi menunjukkan tingkat hasil belajar dengan rata – rata 64,73. Adanya peningkatan yang signifikan hasil belajar matematika anak tunarungu kelas IV dari sebelum dan setelah dilakukan intervensi melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share Dari uraian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: bahwa ada pengaruh yang signifikan  model pembelajaran kooperatif tipe  Think Pair Share terhadap aktivitas siswa dan hasil belajar matematika anak tunarungu kelas IV di SDLB –B Karya Mulia I Surabaya. 
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe  Think Pair Share  dapat meningkatkan kemampuan berinteraksi social anak tunarungu dan dapat meningkatkan aktivitas siswa serta hasil belajar matematika di sekolah. Oleh sebab itu maka penulis menyarankan kepada: (1) Hendaknya guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe  Think Pair Share sebagai pengembangan proses pembelajaran di sekolah. Karena pembelajaran kooperatif tipe  Think-Pair-Share dapat merangsang siswa untuk berfikir, menjawab dan saling membantu  satu sama lain dan siswa diberikan kesempatan untuk bertanggung jawab atas segala sesuatu dalam kelompoknya sehingga dapat merangsang siswa secara  aktif untuk mengemukakan apa yang mereka pikirkan selama proses pembelajaran; (2) Orang tua dapat juga menerapkan model pembelajaran kooperatif sebagai proses pembelajaran dirumah. Seperti halnya ketika menyelesaikan pekerjaan dirumah, orang tua dan anak  saling bekerja sama dalam melaksanakan tugas di rumah. Selain itu orang tua hendaknya menciptakan interaksi dan komunikasi dua arah yang  aktif dengan anak serta memberikan kesempatan anak untuk berpendapat dalam  keluarga; (3) Peneliti Lanjutan dapat mengembangkan lebih cermat tentang pembelajaran kooperatif dan memperhatikan langkah- langkahnya serta kondisi yang ada pada diri subyek penelitian.
3.    CETLs : SUPPORTING COLLABORATIVE ACTIVITIES AMONG STUDENTS AND TEACHERS THROUGH THE USE OF THINK-PAIR-SHARE TECHNIQUES. (oleh : N. A. Nik Azlina)
Hasil penelitian yang dilakukan oleh N. A. Nik Azlina bahwa lingkungan belajar kolaboratif computer-supported adalah sebuah kesempatan baik untuk belajar masyarakat untuk mempengaruhi teknologi baru. dengan demikian penelitian ini telah melaporkan pendekatan kolaboratif yang digunakan untuk mengajar dan belajar di Web. Pendekatan untuk mengajar dan belajar kolaboratif termasuk posisi guru sebagai pengawas, bersama dengan pengawas diskusi kelas dan pelajar, dan penggunaan dari sekelompok proyek. Beberapa alat CSCL telah ditinjau dan perbandingan dibuat sesuai. Kolaboratif belajar teknik  Berpikir-pasangan-berbagi, diringkas, dan sistem CSCL yang menerapkan teknik ini menjadi  berkembang. Sistem cscl yang disebut sebagai cetls, yang berharap untuk meningkatkan proses belajar mengajar, dengan demikian untuk meningkatkan kinerja para siswa di sekolah-sekolah. CETLs dipercaya sebagai mekanisme pembelajaran yang mampu menyediakan transformasi lebih baik tidak hanya untuk guru dan siswa, tetapi untuk seluruh masyarakat juga.

G. Metodologi penelitian
1.    Tempat penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester genap di  SMAN 12 Tanerang Selatan.

2.    Waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan pada semester genap kelas tahun ajaran 2012/2013.

3.    Metode dan desain penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode eksperimen. Metode ini bersifat menguji yaitu menguji pengaruh satu atau lebih variabel terhadap variabel lain[21]. Metode yang diguanakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperimen yaitu suatu eksperimen semu dimana penelitian menggunakan racangan penelitian yang tidak dapat mengontrol secara penuh terhadap ciri-ciri dan karakteristik sampel yang diteliti, tetapi cenderung menggunakan rancangan yang kemungkinan pada pengontrolan yang sesuai dengan kondisi yang ada (situasional)[22].




Tabel Desain Penelitian
No
Kelompok
Pretest
treatment
Posttest
1
E
T1
X1
T2
2
C
T1
X2
T2

Keterangan :
E          : kelompok eksperimen (kelompok yang menggunakan model kooperatif tipe think pair share)
C         : kelompok kontrol (kelompok yang menggunakan metode konvensional)
T1          : tes awal yang sama pada kedua kelompok (pretest)
X1         : perlakuan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share
X2        : perlakuan dengan menggunakan metode konvensional
T2         : tes akhir yang sama pada kedua kelompok (posttest)
Berdasarkan desain penelitian di atas kedua kelompok diberi tes awal dengan tes yang sama. Setelah diberi perlakuan yang berbeda kedua kelompok dites dengan tes yang sama sebagai tes akhir. Hasil kedua tes akhir dibandingkan (diuji perbedaannya) demikian juga antar hasil tes awal dengan tes akhir pada masing-masing kelompok. Perbedaaan yang berarti antar kedua tes dan tes akhir pada kelompok eksperimen menunjukan pengaruh dari perlakuan yang diberikan.
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya[23]. Jadi, penelitian ini melibatkan dua variabel, yaitu variabel bebas (independent variabel) dan variabel teriakat (dependent variabel). Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS), sedangkan variabel terikatnya (Y) adalah hasil belajar fisika siswa kelas XI pada konsep fluida statis.
Pada penelitian ini, desain atau rancangan penelitian yang digunakan adalah Control Group Pretest-Postest. Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara random, kemudian diberi pretest untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil pretest yang baik bila nilai kelompok eksperimen tidak berbeda secara signifikan[24].

4.    Populasi Dan Sampel Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya[25].
Menurut Ronald E. Walpole, populasi adalah keseluruhan pengamatan yang menjadi perhatian kita[26].
Populasi dalam penelitian ini adalah populasi target dan terjangkau. Yang menjadi populasi target adalah seluruh siswa SMAN 12 Tangerang Selatan. Sedangkan yang menjadi populasi terjangkau yaitu seluruh siswa kelas XI yang terdaftar di skolah tersebut pada semester genap tahun ajaran 2012/2013.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut[27]. Menurut Ruseffendi, sampel adalahsebagian atau wakil yang diteliti[28]. Sampel di ambil secara acak dari populasi terjangkau sebanyak 2 kelas. Satu kelas dipilih secara acak sebagai kelompok eksperimen dan secara acak pula memilih kelas sebagai kelompok kontrol. Sampel di ambil dengan teknik Cluster Random Sampling (pengambilan kelas secara acak).
Sampel yang akan diambil dalam penelitian ini adalah dua kelas, yaitu kelas XI IPA I dan kelas XI IPA II SMAN 12 Tangerang Selatan tahun ajaran 2012/2013.




5.    Teknik pengumpulan data
Teknik pengambilan data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah cara yang digunakan untuk memperoleh data-data empiris untuk mencapai tujuan penelitian. Cara yang digunakan peneliti dalam pengumpulan data adalah dengan menggunakan jenis test sebagai instrumen penelitian. Test tersebut di berikan secara langsung kepada dua kelompok sampel setelah peneliti memberikan perlakuan pada kedua kelomok tersebut. Jadi test ini di berikan setelah siswa yang di maksud mempelajari materi yang telah dipelajrai dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS).

6.    Instrumen
Instrumen penelitian  diartikan sebagai alat yang dapat menunjang sejumlah data yang di asumsikan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan (masalah) dan menguji hipotesis penelitian. Menurut sugiyono, instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati[29]. Sesuai dengan jenis data yang dibutuhkan, penelitian ini menggunakan instrumen berupa tes hasil belajar. Dan dalam penelitian ini data diperoleh dengan tes hasil belajar.
Istilah tes diambil dari kata testum suatu pengertian dalam bahasa Prancis kuno yang berarti piring untuk menyisihkan logam-logam mulia[30]. Sebelum ada ejaan yang disempurnakan dalam bahasa Indonesia ditulis dengan test, adalah merupakan alat atau prosedur uang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan[31]. Tes adalah sekumpulan pertanyaan atau latihan serta alat yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok[32]. Tes dalam penelitian ini merupakan tes prestasi atau achievement test, yaitu tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu[33]. Dalam penelitian ini, tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar fisika siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah tes pilihan ganda (multiple choice test) guna mengukur kognitif siswa dalam hal memahami materi atau teori yang dipelajari dalam proses pembelajaran fisika.

7.    Kalibrasi Instrumen
Untuk memperoleh butir tes yang mempunyai kategori baik dan bisa di pakai untuk penelitian, maka harus di uji cobakan terlebih dahulu. Analisis perangkat tes adalah analisis untuk mengetahui validitas, reliabilitas, indeks kesukaran dan daya pembeda.
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen tes pilihan ganda (multiple choice test). Soal tes disusun berdasarkan ruang lingkup matri yang di ajarkan. Untuk keabsahan instrumen penelitian ada beberapa yang harus diperhatikan,antara lain :
a.    Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen dikatakan valid bila instrumen tersebut tepat untuk maksud dan kelompok tertentu, mengukur apa yang semestinya diukur, derajat ketepatan mengukurnya benar dan validitasnya tinggi[34]. Pengujian validitas butir soal atau butir instrumen dilakukan dengan menghitung koefesien korelasi antara skor butir soal dengan skor tes. Soal dianggap valid bila skor soal tersebut mempunyai koefesien korelasi signifikan dengan skor total tes. Untuk mengukur validitas butir soal dalam penelitian ini digunakan rumus korelasi biserial yaitu :

Keterangan :
= koefisien relasi biseral
  = rerata skor dari subyek yang menjawab betul bagi item yang dicari          validitasnya
  = rerata skor total
    = standar deviasi skor total
p     = proporsi siswa yang menjawab benar
( )
q     = proporsi siswa yang menjawab salah (q = 1 – p )
Untuk mengetahui vatid tidaknya butir soal, maka hasil perhitungan rhit dibandingkan dengan rtabel. Jika rhit   rtabel maka soal tersebut valid. Jika rhit rtabel maka soal tersebut dinyatakan tidak valid.

b.   Reabilitas
Reliabilitas instrumen atau alat evaluasi adalah ketetapan alat evaluasi dalam mengukur atau ketetapan siswa dalam menjawab alat evaluasi tersebut. Pengujian reliabilitas dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Sebuah alat evaluasi dikatakan reliabel apabila hasil dari dua kali atau lebih pengevaluasian dengan dua atau lebih alat evaluasi yang senilai pada masing-masing pengetesan akan sama.
Suatu alat evaluasi dikatakan baik, bila reliabilitasnya tinggi. Secara empirik tinggi-rendahnya reliabilitas ditunjukan oleh suatu angka yang disebut koefesien reliabilitas, berkisar antara 0 sampai dengan 1. Dalam penelitian ini, pengujian tingkat reliabilitas instrumen dilakukan menggunakan rumus K-R. 20, yaitu[35] :


Keterangan :
rii = reliabilitas tes secara keseluruhan
p = proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q = proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q=1-p)
n = banyaknya item
S = standar deviasi dari tes (standar deviasi adalah akar varians)
∑pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q

c.    Indeks kesukaran
Indeks kesukaran soal merupakan bilangan yang menunjukan sukar dan mudahnya suatu soal. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Indeks kesukaran soal rentangnya dari 0,0 – 1,0. Semakin besar indeks menunjukan semakin mudah butir soal, karena dapat dijawab dengan benar oleh siswa. Sebaliknya, jika sebagian kecil atau tidak ada sama sekali siswa yang menjawab benar menunjukan butir soal  sulit. Indeks 0,0 menunjukan butir soal yang sukar, sedangkan indeks 1,0, menunjukan butir soal yang sangat mudah. Untuk mengetahui butir soal dalam kategori mudah, sedang, sukar menggunakan rumus[36]:


Keterangan:
P = indeks kesukaran
B = banyak siswa yang menjawab soal itu dengan betul
JS = jumlah seluruh siswa peserta tes

d.   Daya pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi, di singkat D. Daya pembeda ini berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Menentukan daya pembeda (DP) digunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
J       = Jumlah peserta tes
JA        =                Banyaknya peserta kelompok atas
JB        =     Banyaknya peserta kelompok bawah
BA     =            Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan benar
BB       =            Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar
      =          Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
     =           Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

8.    Teknik Analisis Data
a.    Uji Normalitas
Uji normalitas data ini dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran data berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang digunakan adalah uji kai kuadrat (chi square) dengan rumus sebagai berikut[37]:

Keterangan:
X2 = chi kuadrat
f0  = frekuensi yang diobservasi
fh = frekuensi yang diharapkan
b.   Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui kesamaan antara dua keadaan atau populasi. Untuk menguji homogenitas kedua varians kedua hasil pretest dan posttes digunakan uji bartlet dengan rumus sebagai berikut:[38]


Keterangan:
Jika X2hitung < X2tabel maka data memiliki varians yang homogen dan jika X2hitung > X2tabel maka data memiliki varians yang tidak homogen.

c.    Uji Hipotesis Penelitian
Jika sampel berkorelasi/berpasangan, misalnya membandingkan sebelum dan sesudah treatmen atau perlakuan, atau membandingkan kelompok kontrol dengan keompok eksperimen, maka digunakan rumus t-test sample related. Rumus t-test adalah sebagai berikut :
 dimana, sx-y2 =
Keterangan :
 = rata-rata nilai kelas kontrol
 = rata-rata nilai kelas eksperimen
nx = jumlah kelas kontrol
ny = jumlah kelas eksperimen
sx = variansi nilai-nilai kelas kontrol
sy = variansi nilai-nilai kelas eksperimen
Pasangan hipotesis yang akan di uji adalah :
Ho : μ1 =  μ2
Ha : μ1 ≠ μ2
Keterangan :
μ1 = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen
μ2 = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol
kriteria pengujiannya adalah Ho diterima jika ttabel < thitung.




























H.  Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Satu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Dahar, Ratna Wilis. 1996. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi KTSP dan Sukses Dalam Sertifikasi guru.
Makmun, Abin Syamsuddin. 2007. Psikologi Kependidikan Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Makmun, Abin Syamsuddin. 2007. Psikologi Kependidikan Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Slavin, Robert E. 2008. Cooperative Learning. Bandung: Nusa Media.
Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.
Sudijono, Anas. 2010. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
Syah, Muhibbin. 2011. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Walpole, Ronald E. 1992. Pengantar Statistika. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.
Nik Azlina. 2010. Supporting Collaborative Activities Among Students and Teachers Through the Use of Think-Pair-Share Techniques. International Journal of Computer Science Issues, Vol. 7, Issue 5, September 2010
Arianti, Peni. 2007. Pengaruh Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (Tps) Terhadap Hasil Belajar Siswa Sma Negeri 8 Surakarta. Jurnal pendidikan biologi.


[1] Soedijarto, Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita, (Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2008) hal. vii
[2] Ratna wilis Dahar, Teori – Teori Belajar, (Bandung: PT. Gelora Aksara Pratama, 1996) hal. 11

[3] Kunandar, Guru Profesional, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007)hal. 367
[4] Suharsimi arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009) h.121
[5] Kunandar, Guru Profesional, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007)hal. 359
[6] Slavin, Cooperative Learning, (Bandung: Penerbit Nusa Media, 2008) hal. 4
[7] Ibid. Hal 4
[8] Ibid, hal. 8
[9] Ibid, hal. 9
[10] Kunandar, Guru Profesional implementasi kurikulum KTSP dan sukses dalam sertifikasi guru, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007) hal. 37
[12] Ratna wilis Dahar, Teori – Teori Belajar, (Bandung: PT. Gelora Aksara Pratama, 1996) hal. 11
[13] W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 1996) hal. 52
[14] Arief S.  Sadiman, dkk. Media Pendidikan (pengertian, pengembangan dan pemanfaatannya), (Jakarta: Rajawali Press, 2010) hal. 23
[15] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta, 2010) hal. 2
[16] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2010) hal. 92
[17] Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar, (Bandung: Erlangga, 1996) hal. 135-140
[18] Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar, (Jakarta: Erlangga, 1996), hal. 134
[19] Hisyam Zaini,dkk., Desain Pembelajaran, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta, 2002), hal. 68
[20] Arief S.  Sadiman, dkk. Media Pendidikan (pengertian, pengembangan dan pemanfaatannya), (Jakarta: Rajawali Press, 2010) hal. 2
[21] Nana syaodih sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007) hal. 58
[22] Nana Sudjana dan Ibrohim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2007) hal. 43-44
[23] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2011) hal. 60
[24] Ibid hal.112-113
[25] Ibid, hal. 117
[26] Ronald E. Walpole, Pengantar Statistika, (Jakarta: GramediaPustaka Utama. 1992), hal. 7
[27] Ibid hal. 118
[28] Ruseffendi, Statistika Dasar Untuk Penelitian Pendidikan, (Bandung: IKIP Bnadung Pess, 1994), hal. 8
[29] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2011) hal. 148
[30] Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hal 52
[31] Ibid hal. 53.
[32] Ruseffendi, Statistika Dasar Untuk Penelitian Pendidikan, (Bandung: IKIP Bnadung Pess, 1994), hal. 24.
[33] Ibid, hal.24
[34] Ruseffendi, Statistika Dasar Untuk Penelitian Pendidikan, (Bandung: IKIP Bnadung Pess, 1994), hal. 132.
[35] Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hal 100
[36] Ibid, h. 208
[37] Anas Suditjono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers 2010), h.298
[38] Sudjana, Metoda Statistika, (Bandung: Tarsito2005), h. 263

0 comments:

Post a Comment